FKM Unimus Dorong Akselerasi Integrasi Layanan Primer Melalui Studi Independen Mahasiswa
![]() |
![]() |
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Semarang (FKM Unimus) kembali menegaskan komitmennya dalam meningkatkan mutu pembelajaran berbasis praktik lapangan melalui kegiatan Rapat Koordinasi Persiapan Studi Independen yang diselenggarakan pada Jumat, 18 Juli 2025 di Gedung Laboratorium Kesehatan (Labkes) FKM Unimus lantai 4 ruang 406. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program Hibah PKKB (Program Kompetisi Kampus Berdampak) yang bertujuan untuk memperkuat implementasi Merdeka Belajar–Kampus Merdeka (MBKM) serta mendukung penguatan Integrasi Layanan Primer (ILP) di Posyandu.
Rapat koordinasi ini dihadiri oleh seluruh panitia PKKB FKM Unimus dan menghadirkan narasumber Iwan Satrianto, S.K.M., Kepala Puskesmas Toroh Kabupaten Grobogan. Kehadiran narasumber dari puskesmas menjadi penting karena kegiatan studi independent ini dirancang agar mahasiswa memiliki pemahaman yang kontekstual terhadap pelaksanaan layanan primer di tingkat masyarakat. Dalam kegiatan tersebut, Prof. Dr. Sayono, S.K.M., M.Kes (Epid) selaku Dekan FKM Unimus membuka acara dengan penekanan bahwa posyandu memiliki peran strategis sebagai garda terdepan layanan kesehatan masyarakat. “Mahasiswa perlu memahami realitas lapangan, bukan hanya dari sisi teoritis, tetapi juga bagaimana berkoordinasi dengan lintas sektor dan menghadirkan solusi atas tantangan di masyarakat,” ujar Prof. Sayono.
Dalam sesi paparan, Irfanul Chakim, S.K.M., Ph.D.Sc selaku ketua pelaksana memaparkan rancangan kegiatan studi independen yang berorientasi pada penerapan metode case method dan team-based project learning. Mahasiswa akan dilibatkan secara langsung dalam upaya penguatan posyandu berbasis ILP di berbagai desa mitra, khususnya di wilayah Kabupaten Grobogan yang memiliki 30 puskesmas dan 286 desa. Rencana pelaksanaan juga mencakup penyusunan dokumen implementasi, pembentukan jejaring kerja sama dengan puskesmas dan dinas kesehatan, serta pelaksanaan praktik mahasiswa di lapangan.
Hasil rapat menunjukkan bahwa pelaksanaan studi independent ini akan diarahkan secara sistematis di tingkat kecamatan, antara lain di wilayah Toroh, Nggeyer, dan Purwodadi. Setiap desa akan menjadi lokasi kegiatan dengan dua kelompok mahasiswa, dengan pembagian tugas yang memungkinkan rotasi dan keterlibatan aktif selama satu minggu di puskesmas. Melalui pendekatan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya belajar mengidentifikasi masalah kesehatan masyarakat, tetapi juga mampu mengembangkan solusi berbasis data dan kolaborasi antar pemangku kepentingan.
FKM Unimus menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari keberhasilan pelaksanaan program PKKB tahun sebelumnya, di mana mahasiswa telah merintis penerapan ILP di desa Jono dan Mojorebo di tahun 2023. Aktivitas tersebut menghasilkan tiga buku saku dan tiga video pembelajaran yang telah memperoleh hak cipta. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran lapangan mampu menghasilkan luaran nyata yang berkontribusi bagi masyarakat dan memperkuat kompetensi lulusan Sarjana Kesehatan Masyarakat.
Kegiatan rapat koordinasi berjalan lancar dan menghasilkan kesepakatan penting, salah satunya adalah rencana pelaksanaan lokakarya lanjutan bersama Dinas Kesehatan dan Bappeda untuk memperkuat perizinan serta koordinasi dengan puskesmas dan desa mitra. Penunjukan lokasi kegiatan akan dilakukan berdasarkan hasil rekomendasi dari masing-masing puskesmas agar kegiatan studi independent ini dapat berjalan sesuai kebutuhan dan karakteristik wilayah.
Melalui kegiatan ini, FKM Unimus menunjukkan perannya sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya fokus pada pengembangan akademik, tetapi juga aktif berkontribusi terhadap penguatan sistem layanan kesehatan primer di Indonesia. Sinergi antara dunia akademik, praktisi kesehatan, dan pemerintah daerah diharapkan dapat mewujudkan model pembelajaran yang kontekstual dan berkelanjutan, sejalan dengan semangat menuju kampus berdampak.
Sebagai penutup, dekan menegaskan bahwa studi independent yang termuat dalam hibah PKKB bukan sekadar kegiatan akademik, melainkan bagian dari pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. “Melalui pengalaman lapangan ini, mahasiswa akan belajar memaknai arti kolaborasi, empati, dan tanggung jawab sosial sebagai calon tenaga kesehatan masyarakat yang siap berkontribusi untuk negeri,” tutup Prof. Sayono.









