Dalam rangka peringatan ASEAN Dengue Day Ke-6 diadakan kegiatan simposium penatalaksanaan dan sosialisasi Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik serta peluncuran Situs  Edukasi DBD Berbasis Web di Jakarta (15/6). ASEAN Dengue Day (ADD) diperingati setiap tanggal 15 Juni dan tema yang dipilih tahun ini adalah Bergerak Bersama Cegah DBD Melalui Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik. Acara dihadiri oleh Menteri Kesehatan RI yang diwakili oleh Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI, dr. H.M. Subuh, MPPM; Walikota Tangerang Selatan, Airin Rahmi Diany; Asisten Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Pengendalian Kependudukan; Perwakilan dari WHO; dan UNICEF; serta stakeholder lainnya yang terkait  dengan penanggulangan DBD. Pemilihan tanggal 15 Juni sebagai ASEAN Dengue Day didasarkan pada pertimbangan bahwa bulan Juni setiap tahun adalah puncak penularan Demam Berdarah Dengue  (DBD) di 10 negara anggota ASEAN. Meskipun demikian, di Indonesia  puncak penularan DBD terjadi pada awal tahun, yaitu bulan Januari – April, karena berkaitan dengan puncak musim hujan dan berdampak pada munculnya tempat perindukan atau breeding places dari nyamuk Aedes aegypti. Oleh karena itu, Pemerintah telah meluncurkan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik sejak tahun lalu yang merupakan bagian dari upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui 3M Plus yaitu, Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang, ditambah Mengindari gigitan nyamuk. Gerakan ini dimaksudkan untuk mengajak setiap keluarga dan seluruh masyarakat agar mencegah munculnya perindukan nyamuk Aedes aegypti di rumah atau di tempat kerja masing-masing, dengan cara membasmi setiap jentik yang ditemukan dan meniadakan genangan air baik di luar maupun di dalam rumah atau  gedung. Hal ini dikarenakan anggota keluarga lebih dapat menjangkau tempat-tempat yang menjadi sarang nyamuk di lingkungannya. Diharapkan, kelak tidak ada penularan DBD dari nyamuk Aedes aegypti di Indonesia. Untuk mensukseskan gerakan  ini,  di setiap rumah harus ada  satu orang anggota keluarga yang berperan sebagai Juru Pemantau Jentik atau Jumantik.  Jika setiap keluarga Indonesia rata-rata berjumlah 4 orang, dengan penduduk Indonesia yang lebih dari 250 juta, maka dengan gerakan ini diharapkan akan ada sekurang-kurangnya ada 65 juta Jumantik di Indonesia, ujar Menkes dalam sambutannya yang dibacakan oleh Dirjen P2P Kemenkes RI. Jumatik merupakan singkatan dari juru pemantau jentik, yaitu anggota masyarakat yang secara sukarela memantau keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di lingkungannya, melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara rutin. Jumantik juga berperan untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapaan masyarakat menghadapi DBD. Kunci keberhasilan PSN adalah apabila Pemerintah bersama seluruh masyarakat, secara rutin, dan terus menerus menggerakkan terlaksananya PSN yang mencakup : 1. Menguras bak penampungan air; 2. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air; 3. Memanfaatkan kembali barang-barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perindukan nyamuk; dan 4. Menghindari gigitan nyamuk seperti memakai kelambu waktu tidur atau menggunakan anti-nyamuk oles. Dalam kurun waktu lima dasawarsa terakhir, pemerintah telah berhasil menurunkan angka kematian DBD dari  41% pada tahun 1968 menjadi 0,9% pada tahun 2015. Artinya, dewasa ini dari 100 orang penderita DBD tidak lebih  dari 1 orang yang meninggal dunia. Keberhasilan ini dicapai berkat sistem pelayanan kesehatan yang memungkinkan setiap Puskesmas dan Rumah Sakit di Indonesia mampu melakukan diagnosis dini dan tindakan segera pada setiap kasus DBD yang datang di fasilitas pelayanan kesehatan. Kematian DBD umumnya terjadi karena penderita terlambat dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan, ujarnya. Beliau mengingatkan kepada seluruh jajaran kesehatan di tanah air agar penanggulangan DBD dilaksanakan sebagai bagian dari Pendekatan Keluarga dalam mewujudkan Keluarga Sehat. Dengan demikian, sosialisasi kepada seluruh lapisan masyarakat dan stakeholder terkait diperlukan. Upaya-upaya pencegahan terhadap penyakit DBD masih sangat diperlukan bagi bangsa ini, Upaya PSN harus dilakukan setiap saat karena Indonesia merupakan daerah endemis DBD, tambahnya. Sumber: depkes.go.id
0

You may also like

Kemenkes: Indonesia Kekurangan Petugas Epidemiologi
Zika virus – Questions and answers (WHO)
Zika virus – Questions and answers (WHO)
Perhatian Khusus dari Menkes untuk Masalah Kesehatan Masyarakat Pesisir
Perhatian Khusus dari Menkes untuk Masalah Kesehatan Masyarakat Pesisir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *