FKM Unimus Menuju Evident Based Public Health

UNIMUS | Upaya tersebut terungkap dalam diskusi ilmiah lokakarya kurikulum Prodi S1 Kesehatan Masyarakat, tanggal 12 – 13 Juni 2011, yang dibuka oleh Rektor. Pengembangan kurikulum berorientasi pada bidang biomolekuler, environmental & occupational hazard, serta lifestyle dan budaya modern.

Pertemuan ilmiah yang menghadirkan pakar kesehatan masyarakat, manajemen pendidikan, instansi pengguna lulusan, alumni dan mahasiswa tersebut dibuka oleh rektor UNIMUS, Prof. Dr. Djamaluddin Darwis. Dalam sambutannya, rektor menegaskan, “Pembaruan kurikulum harus mampu memberikan ciri pembeda antara FKM UNIMUS dengan yang lain. Ibaratnya, FKM UNIMUS harus bisa menjadi sekuntum bunga elok diantara sejuta bunga yang indah.”

Dalam paparannya, plt. Dekan FKM UNIMUS Sayono, S.KM, M.Kes(Epid) memaparkan visi, misi, dan tujuan program studi Kesehatan masyarakat, serta kompetensi dan profil lulusan yang diharapkan. Beliau menegaskan, “Pembaruan kurikulum ini diarahkan untuk “Go Evident-Based Public Health.”Kredo ini akan diwujudkan dalam pembaruan matakuliah, substansi, dan metode pembelajaran.

Ahli epidemiologi senior, dr. Ludfi Santoso, M.Sc, DTM & H, memberikan pandangan bahwa biomolekuer dan rekayasa genetik merupakan peluang yang baik untuk pengembangan ilmu kesehatan masyarakat di masa datang. Sementara, ahli ilmu perilaku, drg. Zahroh S, MPH, Ph.D menekankan bahwa lifestyle dan modern culture merupakan bidang garap promosi kesehatan yang sangat potensial dan menentukan. Pakar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), Dr. dr. Ari Suwondo, MPH,  dan manajer K3 (praktisi) dari FMC Group (perusahaan internasional di bidang pestisida) Eko Setyono, ST, MT memberikan pandangan yang senada bahwa Sarjana Kesehatan Masyarakat merupakan tenaga yang paling tepat untuk menangani K3. Bidang ini sangat luas, meliputi aktivitas pekerjaan di darat, laut, maupun udara. Dr. Nur Jazuli, S.KM, M.Kes menekankan pentingnya penerapan metode pembelajaran Problem-Based Learning, yang memungkinkan peserta didik untuk aktif, kreatif, dan mengalami pengalaman nyata.

Kepala DKK Semarang, dr. Widoyono, MPH menginformasikan, “Kedepan, SKM memiliki peluang kerja yang makin luas, dengan digodoknya ketentuan yang akan memisahkan antara unit preventif-promotif dengan kuratif-rehabilitatif, khususnya di Puskesmas.” Sementara alumnus, Atfis Prihandono Rozaq, S.KM, mengusulkan, “Selama pendidikan, mahasiswa perlu dibekali ketrampilan praktis, yang dibuktikan dengan berbagai sertifikat pelatihan, magang, dan semacamnya. Hal ini sangat mendongkrak nilai tambah bagi lulusan dalam memperebutkan peluang kerja di perusahaan.” Ketua BEM FKM, Ali Ar Ridho mengusulkan pentingnya memperbanyak kajian isu-isu terkini di bidang kesehatan masyarakat untuk memperkaya wawasan peserta didik.

Masukan dari berbagai pihak tersebut, selanjutnya diolah oleh tim khusus yang dibentuk untuk meramu menjadi rancangan kurikulum baru. Hingga saat ini, FKM UNIMUS telah menerapkan upaya memperbarui kurikulum secara ideal, yaitu 3 tahun sekali. Meski demikian, pembaruan parsial tiap matakuliah selalu dilakukan oleh para dosen setiap waktu, paling tidak setahun sekali. Hal ini sangat penting, untuk menjamin agar lulusan memperoleh ilmu pengetahuan dan teknologi terkini. Dengan cara ini pula, program studi S1 Kesehatan Masyarakat UNIMUS berhasil mempertahankan nilai akreditasi B dari BAN PT dalam periode 2006 – 2011 dan 2011 – 2016, berarti setara dengan programstudi yang sama di berbagai PTN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *